City Hunter
City Hunter
City Hunter Episode 1

[City Hunter Episode 1]
=9 Oktober 1983=
Di sebuah rumah sakit Seoul, seorang wanita sedang berjuang melahirkan
tanpa ditemani seorang pun. Sedang jauh di Negara Myanmar, dua orang
agen sedang menjalankan tugas menjaga pertemuan Presiden Korea dengan
tokoh Myanmar Aung San. Park Moo Yul sang agen dan partnernya Lee Jin
Pyo segera berlari mengiringi datangnya sang Presiden.
Tanpa mereka ketahui sebuah bom telah terpasang di tempat pertemuan.
Seseorang yang tidak diketahui memencet tombol remote control. Bersamaan
dengan lahirnya seorang bayi laki-laki, sebuah bom meledakkan tempat
pertemuan tersebut . Kedua agen terkejut bukan main, dan tidak menduga
sama sekali. Tempat tersebut bersimbah darah, para pejabat dari kedua
belah pihak banyak yang tewas dan terluka tak luput pula orang-orang
yang berada di sekitarnya.
Kedua agen melangkah perlahan menuju tempat ledakan, melihat kejadian tanpa rasa percaya.
Sedang ibu sang bayi bersyukur anaknya lahir dengan selamat. Kedua agen menyusuri reruntuhan gedung. Merasa miris.
Di rumah sakit, wanita tersebut syok mendengar berita tentang kejadian
di Myanmar. Rupanya agen Park Moo Yul adalah suaminya yang bertugas
mengawal presiden bersama partnernya.
Kejadian tersebut memang benar terjadi dimana 9 Oktober 1983 terjadi
peledakan saat pertemuan Presiden Korea Selatan dengan tokoh Aung San Su
Kyui. Banyak korban dari kedua belah pihak.
5 pejabat Korea Selatan sangat geram melihat kejadian di Myanmar. Di
ruangan mereka saling tidak terima dengan kejadian tersebut dan
menyalahkan pemerintah Korea Utara bahwa merekalah yang melakukan
percobaan pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan.
“Pemerintahan sosialis Myanmar meminta kita hanya mengambil langkah diplomatik!”
“Bagaimana bisa itu dilakukan! Ini mempermalukan bangsa kita!”
“Jadi kita akan menyerang balik, apa kalian setuju?”ucap kepala pemerintahan Choi Eun Chang.
Mendadak semuanya bungkam.
“Baik, kita harus menyerang! Tentu saja kita harus menyerang!”
(Di sini ada ayah Ji Hyun dan ayah Jin Guk, para ahjushi yang selalu main di SBS TV sepertinya)
Kepala Choi Eun Chang memperintahkan kedua agen tersebut untuk menjalankan tugas rahasia.
“Teroris yang melakukan penyerangan di Aung San harus mendapatkan
balasannya atas nama ibu pertiwi! Walaupun kemungkinan Presiden tidak
akan menyetujuinya”.
Baik Park Moo Yul dan Lee Jin Pyo saling pandang, dan inilah tanggung
jawab sebagai agen. Harus bersedia menerima tugas walaupun nyawa
taruhannya.
“Di Korea Selatan hanya 5 orang yang mengetahui rencana ini”jelas Choi Eun Chang.
Sebelum menjalankan misinya Moo Yul mengunjungi istrinya di rumah sakit
yang baru saja melahirkan. Istrinya lega bahwa suaminya baik-baik saja.
Moo Yul sangat bahagia melihat anak laki-lakinya lahir namun dia harus
pamit karena harus pergi ke suatu tempat.
“Ah, namanya..aku akan kembali untuk memberi nama anak kita”janji Moo Yul kepada istrinya.
“Bukan tempat yang berbahaya bukan?”
“Tenang saja, aku akan kembali di sampingmu bersama dengan anak kita”.
Moo Yul pergi sebelumnya menyentuh pundak istrinya untuk menguatkan.
Istrinya melepas Moo Yul dengan berat hati.
Jin Pyo dan Moo Yul merekrut tim khusus untuk menyertai misi mereka.
Ahli bom, ahli kendali jarak jauh, dan orang yang ahli di bidang
lainnya.
Bersama keduanya, mereka saling merencanakan penyusupan ke Pyongyang,
Korea Utara. Eun Chang mendatangi mereka sebelum pergi melaksanakan
tugas.
“Aku sangat bangga kepada kalian. Kalian melakukan ini demi bangsa.
Walaupun kalian menempuh jalan berbahaya, pastikan kalian semua
melakukan tugas dengan mulus dan segera pulang”ujar Eun Chang
menjanjikan kepada tim bahwa mereka akan pulang dengan selamat.
Dengan menyamar sebagai tentara Korea Utara, mereka bersemangat untuk
melaksanakan tugas rahasia. Mereka mulai menyusup ke Pyongyang dan harus
berkumpul keesokan harinya di pelabuhan Nampo untuk menaiki kapal ke
Korea Selatan untuk kembali.
Tim khusus mulai menyerang para petinggi Korea Utara dan membunuh mereka sebagai serangan balasan.
Sedangkan di Korea Selatan, Eun Chang membawa kabar buruk.
“Kita tidak memiliki dukungan, Presiden tidak menyetujui rencana kita.
Apa yang harus kita lakukan? Apa yang akan kita lakukan kepada tim yang
sudah kita kirim?”tanya Eun Chang kepada keempat orang dihadapannya.
Jin Pyo dan Moo Yul masih berjibaku dengan tugasnya dan saat menyerang
salah satu petinggi, Jin Pyo terkena tikaman pisau dari salah satu
penjaga. Jin Pyo datang menolong dan menggorok penjaga yang menyerang
Moo Yul ,namun Moo Yul terlanjur terluka parah.
Di lain pihak, Eun Chang sedikit panik dengan keadaan yang berubah drastis.
“Kita harus menyerah sekarang dan kita harus perintahkan mereka untuk
mundur , kita sudah mengirim kapal selam ke Pelabuhan Nampo“pinta Eun
Chang.
Namun kepada kenyataannya anggota lain memutuskan untuk mengorbankan tim
khusus agar tidak ada petunjuk apapun mengenai tugas rahasia yang sudah
terlanjur mereka jalankan. Namun rupanya Eun Chang tidak sependapat dan
bersikeras untuk membawa mereka kembali dengan selamat.
Tim khusus bertemu di pelabuhan Nampo, mereka berenang ke tengah lautan
untuk menunggu kapal selam yang akan membawa mereka kembali. Moo Yul
yang terluka parah dibawa Jin Pyo. Kapal selam telah tiba, anggota lain
segera menuju ke atas dek. Salah satu anggota berhasil menaiki namun
tanpa disangka prajurit Korea Selatan (sniper) yang keluar dari kapal
selam menembaki mereka.
Jin Pyo dan Moo Yul syok. Jin Pyo mencoba untuk berteriak kepada si
penembak bahwa mereka adalah pihak Korea Selatan, dan kenapa mereka
ditembaki? Sudah jelas, kelima petinggi Korea Selatan sudah mengambil
keputusan untuk menghilangkan bukti. Sigh.
Saat sniper mengarahkan tembakan kepada mereka, Moo Yul langsung
menghalangi tubuh Jin Pyo. Moo Yul tertembak demi melindungi Jin Pyo. Di
saat terakhir Moo Yul berusaha keras untuk menahan Jin Pyo tetap di
bawah air,kapal selam pergi, Moo Yul berpesan untuk menjaga anak dan
istrinya.
Betapa marahnya Jin Pyo kepada pihak Korea Selatan, negaranya sendiri yang telah mengkhianatinya.
Eun Chang mendapat kabar bahwa ke 21 prajurit khusus telah tewas.
Sepertinya Eun Chang tidak memiliki pilihan banyak untuk menuruti
kehendak anggota lainnya. Eun Chang merasa bersalah. Salah satu petinggi
memberitahu kepada Eun Chang bahwa semua dokumen telah dimusnahkan.
Identitas mereka telah dihancurkan.
“Mulai sekarang, kita berlima harus melupakan kejadian ini”ujar salah satu pejabat.
Meski demikian Eun Chang tidak bisa tenang. Tiba-tiba Jin Pyo muncul
dihadapan Eun Chang dengan sebilah pisau di leher Eun Chang.
“Sepertinya kau mengkhianati hati nuranimu”ucap Jin Pyo dengan kemarahan yang teramat sangat.
“Maafkan aku”ucap Eun Chang lirih.
“Maaf? 21 orang di depanku ditembak mati! Aku pikir mereka datang untuk menyelamatkan kami!”
Eun Chang beralasan dia harus menyelamatkan hubungan dengan para sekutu
dalam program nuklir dan sebagai gantinya harus melenyapkan tim khusus
demi menjaga hubungan baik dengan Korea Utara. Itulah politik!. Hanya
demi sebuah politik? Kau tahu kami rela mati demi bangsa namun kami
tidak sudi mati demi politik yang hidup demi kekuasaan!”
Eun Chang meminta Jin Pyo untuk membunuhnya. Namun mendadak seseorang
mengetuk pintu ruangan dan memotong rencana Jin Pyo untuk membunuh Eun
Chang.
Saat Eun Chang kembali, Jin Pyo telah pergi tapi meninggalkan catatan
dengan sebilah pisau yang menancap. Mung Chul akan kembali dan mereka
semua harus membayar semua apa yang telah mereka lakukan.
Di luar rumah, istri Moo Yul sedang menggendong anaknya. Saat ia berniat
untuk menjemur kain, ia meletakkan bayinya di tempat tidur luar. Jin
Pyo yang rupanya memperhatikannya dari jauh segera mengambil anak Moo
Yul.
Istri Moo Yul merasa ada yang aneh, ia lalu melihat bayinya namun sayang
bayinya telah hilang, ia panik setelah membaca pesan yang tertinggal di
tempat tidur, istri Moo Yul menangis tak karuan mencari disegala arah.
Setelah membawa pesan Mung Chul bahwa dia membawa anaknya pergi.
“Moo Yul telah mati, aku membawa anaknya dan menjaganya. Jangan pikirkan anak ini, hiduplah bahagia. Mulailah dari awal”.
Jin Pyo jelas pergi ke luar Korea Selatan dengan menumpang kapal yang
membawa imigran gelap. Lee Yoon Sung, nama anak Moo Yul menangis terus.
Seorang wanita Thailand yang kasihan mencoba menenangkan Lee Yoon Sung
kecil.
Jin Pyo dihadapan foto Moo Yul dan istrinya, ia pun memberikan nama anaknya dengan nama Lee Min Ho eh Lee Yoon Sung. :)
“Aku akan membawa dia dan akan membalas dendam kepada mereka oleh karena itu aku harus bertahan, janji Moo Yul”
-10 tahun kemudian di pedalaman Thailand-
Jin Pyo dan Yoon Sung kecil hidup. Membentuk sebuah masyarakat yang
menopang hidup mereka bercocok tanam tanaman opium (ini jenis narkoba
juga). Bentuknya serbuk, kalau pakai ini bisa kecanduan.
Jin Pyo yang sedang menaiki gajah mendapati laporan bahwa ada anak
buahnya yang menjualkan barang-barang mereka secara ilegal. Jin Pyo
terlihat sangat marah.
"Aku sudah mengatakan padamu, kau boleh menjualnya di mana pun tapi
jangan ke Korea"kata Jin Pyo lalu menembak pria itu tanpa ampun.
Sedangkan anak-anak buahnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan
Jin Pyo.
Sementara itu Yoon Sung belajar menembak dari seorang pria asing. Pria
itu memberikan pengarahan pada Yoon Sung kecil bagaimana menembak dengan
tepat.
Jin Pyo datang menghampiri mereka, ia mengajarkan pelatihan yang keras
kepada Yoon Sung kecil. (mian kalo gambar diatas kurang etis, hanya saja
ini khusus 21 tahun ke atas, bagi anak-anak yang membaca tolong
diarahkan bahwa ini hanya plot drama).
Yoon Sung kecil belajar menembak, dan memamerkan kepada ayahnya, kini
Jin Pyo dianggap ayah oleh Yoon Sung. Namun Jin Pyo tidak puas karena
Yoon Sung tidak menembak di daerah vital.
Jin Pyo pun menyuruh Yoon Sung untuk berlatih keras hingga
tangan-tangannya terluka. Jin Pyo terus menyuruh Yoon Sung untuk tidak
berhenti. Yoon Sung dibebankan sebuah misi kelak.
Yoon Sung menyelinap ke kamar ayahnya, Jin Pyo dan mengambil gambar yang
berisi ayah dan ibunya yang sebenarnya. “Ibu”gumam Yoon Sung. Jin Pyo
datang dan meminta gambarnya. Yoon Sung sedih dan bertanya apakah itu
ibunya? Jin Pyo hanya diam sambil memandang foto tersebut.
“Bukankah sudah kubilang dia sudah mati! Lupakan dia!”perintahnya lantas merobek-robek gambar tersebut
Yoon Sung berlari dan menangis. Dan bertemu dengan wanita Thailand dulu
yang kini mengasuhnya, dia sedang menidurkan anaknya. Ibu asuhnya
memanggil Yoon Sung dengan Poo Chai. Yoon Sung mendekat dan langsung
tertidur dipangkuannya.
=7 tahun kemudian=
Yoon Sung kini berumur 17 tahun. Dan tetap menjalani kehidupannya jauh dari keramaian. Jin Pyo mencari Poo Chai namun nihil.
Poo Chai rupanya tengah asik menikmati kota sambil naik sampan. Menggoda
para gadis, mengambil tanpa ijin apel dari pedagang. Kota ini seperti
salah satu kota di Indonesia di mana para pedagang dan pembeli naik
sampan. Lupa apa namanya, kalo tidak salah ada disalah satu
Kalimantan.haha.
Saat berjalan-jalan Poo Chai mendengar teriakan dari seorang pria yang
sedang disiksa penagih hutang. Dengan ketangkasannya, Poo Chai melempar
apel dari jarah lumayan jauh melewati jendela dan mengenai tepat
pemimpin penagih hutang tersebut. Tidak puas sekali, Poo Chai
melakukannya lagi. Puas, Poo Chai pun berlari dan di kejar oleh kelompok
tersebut.
Dengan gerakan lincahnya Poo Chai berusaha melarikan diri, dan akhirnya
Poo Chai mengajak paman yang rupanya sama-sama orang Korea untuk lari
bersama. Poo Chai sepertinya malah senang. Memacu adrenalin bagi dia.
Akhirnya Poo Chai berhasi lolos dengan menaiki sebuah kapal ala Thailand
(mianhe, mau capture gambar banyak hanya saja gerakan terlalu cepat, pokoknya mereka lari dan di kejar.)
Poo Chai kembali bersama ahjussi. Tentu saja Jin Pyo emosi dan menampar
Poo Chai. “Sudah aku bilang untuk tidak membawa orang dari luar
kemari!”teriak Jin Pyo.
Poo Chai beralasan tidak bisa tidak menolonganya. Mung Chul bertanya apa yang bisa ahjusshi itu lakukan.
“Memasak, aku bisa memasak”ucap Bae Shik Joong nama asli ahjusshi tersebut.
Poo Chai makan dengan lahapnya, dan akhirny Shik Joong diterima oleh Mung Chul.
“Siapa dia?”tanya Shik Joong.
“Ayahku”jawab Poo Chai dengan mulut penuh makanan. Shik Joong menelan ludah kaget.
Tiba-tiba Poo Chai mengambil sebuah foto seorang gadis dari kantong Shik Joong.
“Siapa ini? Anakmu?”, mata Poo Chai berbinar-binar melihat gambar gadis tersebut.
“Namanya Kim Na Na”ujar Shik Joong. Dan Poo Chai menduga dia bukan
anaknya karena nama belakang mereka berbeda. Lantas ada hubungan apa Kim
Na Na dengan Shik Joong?
Poo Chai enggan mengembalikan foto Kim Na Na dan tak jauh ibu asuh Poo Chai mengamati tingkah Poo Chai.
Poo Chai tidur bersama dengan Shik Joong. Keesokan harinya Poo Chai
latihan menembak. Shik Joong berdiri tak jauh dan menutup telinganya.
Sedang beberapa orang mengamati Poo Chai lantas pergi seakan ada yang
direncakan.
Jin Pyo mendatangi Poo Chai dan dengan memberi aba-aba ibu asuh Poo Chai
dipaksa dan diikat pada sasaran tembak. Poo Chai terkejut tidak
menyangka ayahnya tega berbuat begitu. Mung Chul marah karena suami ibu
asuh Poo Chai telah kabur membawa obat-obatan.
“Peraturanku adalah tidak akan membiarkan lolos seorang pengkhianat!”teriak Jin Pyo
“Jangan selalu berfikir untuk mendominasi yang lain. Cobalah untuk
memperhatikan orang lain”pinta Poo Chai. “Cobalah untuk memaafkan
ayah”bujuk Poo Chai,
Jin Pyo bersiap menembak ibu asuh Poo Chai namun dihalanginya.
“Baiklah, biar aku yang menembak. Jika aku mampu mengenai sasaran aku minta maafkan dia”pinta Poo Chai.
Poo Chai dengan berkonsentrasi agar tidak meleset sasarannya. Lantas Poo
Chai dengan percaya diri menembak semua target. Ibu asuhnya selamat.
Poo Chai lega lantas melempar senajatanya.
Poo Chai kesal dan pergi ke kamarnya. Poo Chai lantas memandang foto Kim
Na Na. “Menembaki orang yang berharga bagi kita benar-benar tidak masuk
akal bukan?”tanya Poo Chai pada foto Kim Na Na. Poo Chai gelisah. Kau
berada di tempat yang bernama Seoul bukan? Hidup bahagia.
Di kediaman Poo Chai, ternyata seorang pemberontak berusaha untuk
membunuh Poo Chai yang sedang tidur. Ibu asuhnya berada di satu tempat
dengan Poo Chai. Lantas Poo Chai yang mendengar suara senjata langsung
terbangun, mengambil senjata dan membalikkan tempat tidurnya sambil
menyelamatkan Shik Joong.
Dari kejauhan , Jin Pyo mendengar suara tembakan bertubi-tubi dari arah kediamannya.
Pemberontak mulai masuk dan mendapati Poo Chai yang tergeletak,
pura-pura mati sebenarnya. Saat mereka lengah Poo Chai langsung
menghajar mereka. Sungguh, teramat keren sekali! Poo Chai mulai
bertarung dengan mereka tanpa senjata.
Poo Chai keluar dan langsung bersembunyi dibalik pilar saat pemberontak
tersebut menembaki Poo Chai, namun na’as ibu asuh Poo Chai berlari ke
arah Poo Chai dan akhirnya terbunuh oleh tembakan para pemberontak. Poo
Chai syok. Mung Chul datang dan langsung menghabisi para pemberontak
namun sebagian berhasil melarikan diri.
Poo Chai yang tersungkur dihadapan ibu asuhnya mulai frustasi, dengan
penuh emosi Poo Chai mengambil senjata dan berlari mengejar pimpinan
pemberontak yang membunuh ibu asuhnya. Jin Pyo berusaha menghentikannya.
Poo Chai berlari dan menembaki mereka, namun diantara mereka tewas
terkena ledakan granat. Poo Chai terus mengejar namun langkahnya
langsung terhenti, saat dia merasakan Poo Chai telah menginjak granat!
Pemberontak kembali, Poo Chai langsung menembak ternyata pelurunya telah
kosong. Merasa mendapat kesempatan, pemberontak balik bersiap menembak
Poo Chai saat tiba-tiba Jin Pyo datang dan menembak tepat di kepala
pemberontak tersebut.
Poo Chai tidak bergerak, Jin Pyo datang menolong Poo Chai. Jin Pyo
dengan hati-hati menggunakan pisau menekan pelatuk granat, Poo Chai
perlahan mengangkat kakinya. Namun sayang, ranjau darat tersebut lepas
dan akhirnya meledak, Jin Pyo sempat menyelamatkan Poo Chai namun dia
sendiri terluka parah.
Poo Chai panik, dan menggendong Jin Pyo kembali ke markas sambil memohon kepada ayahnya untuk bertahan.
Poo Chai menangis memohon kepada tim dokter agar menyelamatkan ayahnya. Di tengah kesakitan Jin Pyo berusaha mengatakan sesuatu.
"Anakku, nyawamu lebih berharga daripada kaki"ucap Jin Pyo yang ternyata kehilangan kakinya.
Sedangkan tim dokter memaksa untuk segera operasi karena Jin Pyo
kehilangan darah banyak. Tiba-tiba Jin Pyo meminta pisau dan menyuruh
Poo Chai untuk mengambil peluru yang selama ini berada di dada Jin Pyo.
Poo Chai memegang peluru tersebut.
"Sekarang dengarkan baik-baik, ini kisah ayahmu yang sebenarnya"terang
Jin Pyo sambil menahan sakit. Poo Chai tersentak. Ayah yang sebenarnya?
"17 tahun yang lalu, 20 prajurit telah dikhianati oleh bangsanya
sendiri. Ayahmu waktu itu terluka saat berjuang, untuk menyelamatkanku,
dia rela ditembak"
Peluru yang mengenai jantung ayah Poo Chai lalu disimpan di dada Jin Pyo, untuk selalu mengingatkan peristiwa tersebut.
Poo Chai kini tahu kenapa selama ini dia dididik secara keras dan kejam! untuk membalas dendam.
"Kau harus hidup untuk ayahmu". Jin Pyo jatuh pingsan. Poo Chai kembali panik dan meminta diselamatkan ayahnya.
Poo Chai termenung antara percaya dan rasa syok. Dia harus kehilangan
ibu asuhnya, mengetahui kenyataan pahit yang harus diterimanya.
Sedangkan Jin Pyo yang kritis mengingau memohon kepada Mung Chul agar jangan mati dan meminta maaf kepada ibu Poo Chai.
Poo Chai memegang foto ayah ibunya yang sebenarnya yang telah disatukan
karena dulu di sobek-sobek oleh Jinn Pyo. Poo Chai memandangnya.
Poo Chai menemui Jin Pyo dan bertanya siapa yang membunuh ayahnya yang
sebenarnya?. “Ada lima orang”jawab Jin Pyo. Lantas Poo Chai meminta Jin
Pyo untuk pergi ke tempat lain untuk memulai lagi dari awal dan hidup
bahagia.
Jin Pyo hanya terdiam. “Satu hal yang ingin aku tanyakan, ibu yang
sebenarnya masih hidup bukan?”tanya Poo Chai. Jin Pyo mengangguk dan
menjawab dia masih hidup.
Poo Chai keluar dan bertemu dengan Shik Joong yang menunggui di luar kamar.
"Aku ingin mengubah diriku, ini adalah takdirku"ucap Poo Chai memutuskan untuk membalas dendam.
=7 tahun kemudian=
Poo Chai atau Yoon Sung dengan penampilan baru untuk pertama kali
menginjakan kaki di Korea Selatan. Misi jelas. Jin Pyo menghubungi Yoon
Sung.
"Sepertinya kau sudah sampai, orang pertama dari 5 orang yang harus kau
cari adalah Lee Kyung Wan"ucap Jin Pyo jelas. Yoon Sung mengerti.
"Sekarang lupakan kehidupanmu di Amerika namun jangan kau lupakan kematian ayahmu!". Jin Pyo mengingatkan Yoon Sung.
Yoon Sung meminta berhenti pada sebuah monumen di tengah kota. Yoon Sung
merasakan untuk pertama kali kembali ke tanah kelahirannya. Tak jauh
dari Yoon Sung berada, berdiri Kim Na Na yang sedang membagikan barang
kepada pejalan kaki. Takdir keduanya akan segera dipertemukan.
Dan sampai juga di episode 20 - END -
City Hunter Episode 20 -End-
[City Hunter Episode 20-Final]
Dalam keadaan sekarat Young Joo meminta Yoon Sung untuk memaafkan
ayahnya dan juga mengatakan maaf kepada Yoon Sung dan setelah itu Young
Joo pun menghembuskan nafas terakhirnya
(sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhh, ga rela Young Joo meninggal~aida
rf). Yoon Sung sangat terkejut melihat Young Joo dan dengan gemetar
Yoon Sung berusaha membangunkan Young Joo dengan terus menerus berteriak
memanggil nama Young Joo. Dengan perasaan yang sedih dan penuh dendam
akhirnya Yoon Sung meninggalkan Young Joo dan mengambil handphone Young
Joo.
Sementara itu di rumah sakit ternyata ayah Young Joo tiba-tiba bisa
menggerakkan tangannya dan secara perlahan-lahan akhirnya membuka mata
dan sadar dari komanya (aduh appa belum tahu yak kalau Young Joo oppa
sudah meninggal hiks).
Yoon Sung melarikan mobilnya dengan cepat. Yoon Sung memeriksa handphone
Young Joo dan menemukan sms yang dikirim Jin Pyo supaya Young Joo
datang ke tempat persembunyian Jae Man. Yoon Sung yang sudah mengetahui
yang mengirim sms adalah Jin Pyo lansung menghubungi Jin Pyo.
“Ayah, kenapa kau melakukannya? Kenapa ayah bohong dan memberitahu Young Joo untuk datang ke sana?”tanya Yoon Sung.
Jin Pyo pun menjawab “Jaksa Republik Korea ingin tahu kebenarannya. Aku hanya ingin membantunya”.
Dengan marah Yoon Sung pun mengatakan kalau Young Joo telah meninggal
dan yang telah membunuh Young Joo adalah Jin Pyo sendiri. Jin Pyo tak
mau merasa kalah dengan mengatakan bahkan orang yang tidak berdosa bisa
meninggal kapan saja seperti teman-teman seperjuangan Jin Pyo dulu dan
Jin Pyo pun memutuskan kalau Jae Man harus mati ditangan Jin Pyo.
Jae Man sudah sampai di pelabuhan dan cepat-cepat menuju kapal yang akan
dinaikinya. Tetapi sebelum sampai di kapal, Jae Man sudah ditunggu oleh
Jin Pyo. Jae Man pun terkejut melihat Jin Pyo di depannya. Jae Man pun
menyuruh anak buahnya untuk menyerang Jin Pyo tetapi dengan sangat mudah
di lumpuhkan oleh Jin Pyo. Jin Pyo mendekati Jae Man yang ternyata
sudah tahu kalau Jae Man akan melarikan diri.
Jae Man mengatakan kalau Jin Pyo telah menghancurkan hidupnya dan
bertanya apa yang diinginkan Jin Pyo sebenarnya. Dengan santai dan
dengan dinginnya Jin Pyo mengatakan kalau Jin Pyo hanya ingin nyawa Jae
Man. Mendengar kata-kata Jin Pyo, Jae Man langsung ketakutan dan
berusaha melarikan diri. Jae Man naik ke atas kapal tetapi ternyata Jin
Pyo sudah berada di atas kapal.
Jae Man tambah terkejut dan melarikan diri lagi tetapi Jin Pyo
perlahan-lahan mengikuti Jae Man hingga Jae Man jatuh di pinggir kapal.
Jae Man memohon supaya Jin Pyo tidak membunuhnya tetapi dengan tanpa
belas kasihan Jin Pyo langsung menebas tubuh Jae Man hingga tak bernyawa
lagi.
Yoon Sung pun sampai di pelabuhan tempat Jae Man dibunuh. Yoon Sung
berkeliling mencari Jae Man dan menemukan dua orang pengawal Jae Man
sudah terkapar. Yoon Sung terkejut melihatnya dan ketika menoleh ke kiri
Yoon Sung melihat mayat Jae Man dan langsung menghampiri mayat Jae Man.
Melihat Jae Man yang sudah tak bernyawa, Yoon Sung mengepalkan
tangannya dan berteriak jengkel dan marah.
Di dalam mobilnya, Yoo Sung termenung sambil mengingat kata-kata Young
Joo yang memberitahukan tempat dokumen rahasia dan meminta Yoon Sung
untuk membeberkan isi dokumen rahasia itu.
Yoon Sung pun membuka satu persatu file dan mengingat ketika menangkap
orang-orang yan berkaitan dengan insiden tahun 1983 mulai dari Lee Kyun
Wan, Seo Yong Hak, Kim Jon Shik dan Jae Man.
Begitu melihat nama terakhir, Yoon Sung sangat terkejut karena nama itu
adalah nama presiden dan tak lain adalah ayah Yoon Sung sendiri. Dan
pada akhinya, beginilah yang terjadi kata Yoon Sung. Yoon Sung keluar
dari mobilnya dan terlihat sangat lelah dan menghembuskan nafas dengan
berat.
Yoon Sung datang ke rumah Jin Pyo saat Jin Pyo sedang membersihkan noda
darah Jae Man disenjata yang dipakai Jin Pyo untuk membunuh Jae Man.
Melihat Jin Pyo membersihkan noda darah, Yoon Sung mengatakan apakah Jin
Pyo telah membersihkan noda darah itu dengan baik dan Jin Pyo diam dan
terus membersihkan senjatanya. Yoon Sung pun mengatakan kalau seharusnya
Jin Pyo juga membersihkan darah dari Young Joo.
Jin Pyo mengatakan kalau yang membunuh Young Joo adalah Jae Man. Yoon
Sung mengatakan kalau Jin Pyo sama saja dengan Jae Man. Jin Pyo sangat
marah dan tidak terima kalau dirinya disamakan dengan Jae Man lalu
menodongkan senjatanya ke arah Yoon Sung. Yoon Sung tak gentar dan
mengatakan kalau orang terakhir yang dihukum adalah Presiden. Jin Pyo
terlihat terkejut mendengarnya.
“Balas dendam yang kejam yang anda maksud adalah membunuh ayah kandungku
sendiri dan selama 28 tahun bersenang-senang dengan mengambilku dari
ibuku dan membuat aku percaya orang lain adalah ayah kandungku dan
sekarang anda memberitahuku untuk membalas dendam pada ayah kandungku
sendiri? Balas dendam itu, aku rasa aku tidak bisa melakukannya”kata
Yoon Sung.
Jin Pyo menurunkan senjatanya dan bertanya apakah semua itu karena
presiden adalah ayah kandung Yoon Sung. Yoon Sung mengatakan tidak
karena setelah dekat dengan Presiden Yoon Sung merasa bahwa Presiden
adalah seorang presiden yang menakjubkan. Jin Pyo pun mengatakan kalau
presiden yang menakjubkan yang dikatakan Yoon Sung bukanlah Presiden
yang mendapatkan kedudukannya dengan bersih dan Jin Pyo ingin melihat
ekspresi Yoon Sung ketika mengetahui siapa sebenarnya Presiden tetapi
Yoon Sung mengatakan jangan dan apa yang diinginkan Jin Pyo tidak akan
terjadi. Yoon Sung pun meninggalkan Jin Pyo yang tiba-tiba melepas
senjatanya ke meja.

Akhirnya Yong Hak mengatakan kepada wartawan akan mengungkapkan
kebenaran dan target berikut City Hunter adalah Presiden karena insiden
yang terjadi tahun 1983 adalah atas perintah Presiden dan secara pribadi
merencanakannya. Wartawan pun ribut mendengar berita tersebut. Presiden
pun mengadakan konprensi press mendadak untuk mengklarifikasi apa yang
sudah dikatakan Yong Hak tentang orang yang merencanakan insiden 1983.
Presiden terkejut ketika seorang wartawan memberitahukan kalau Young Joo
telah meninggal.

Young Sung dan Jin Pyo melihat konprensi press. Anak buah Jin Pyo
terkejut mendengar kalau Presiden yang telah merencanakan semuanya. Anak
buah Jin Pyo bertanya untuk menurunkan presiden apakah Jin Pyo sengaja
menyebarkan gosip bahwa presiden menyuap supaya Presiden terlihat
korupsi. Jin Pyo bertanya apakah anak buahnya takut tapi anak buah Jin
Pyo hanya menginginkan kehormatan kakaknya kembali karena mengguncang
Negara bukanlah yang diinginkan anak buah Jin Pyo,ia hanya menginginkan
kehormatan semua prajurit yang meninggal kembali dan meminta Jin Pyo
untuk mengakhiri semuanya. Jin Pyo hanya diam mendengar semua yang
dikatakan anak buahnya.
Dengan tangan gemetar, Soo Hee mengambil sebuah bunga untuk diletakkan
di foto mendiang Young Joo. Tak sanggup Soo Hee menahan kesedihan, dan
jatuh terduduk. menangisi kepergian orang yang dicintainya.
Ayah Young Joo yang telah sadar, hanya bisa terduduk di kursi roda dan menaggis sesegukan.
Tak jauh beda, staf dan atasan Young Joo pun larut dalam kesedihan.
Atasan Young Joo begitu menyesali tindakan Young Joo yang selalu gegabah
melakukan investigasi sendiri dan tidak mengindahkan kata-kata
atasannya.
Semua serentak berdiri saat melihat sang Presiden datang berkabung. Na
Na yang ikut mengawal Presiden juga terlihat syok melihat foto Young
Joo, berusaha keras untuk menahan air mata. Presiden menatap ayah Young
Joo dengan tatapan simpati lalu pergi.
Langkahnya terhenti saat bertemu dengan Yoon Sung yang baru saja datang.
Staf Young Joo yang tidak terima kematian Young Joo datang mendekati
Yoon Sung dengan kemarahan.
“City Hunter adalah kau! Karena kau kami menjadi seperti ini, pergi
pembunuh! Kami pasti akan menangkapmu!”teriak staf Young Joo kalut.
Yoon Sung hanya berdiam diri, air mata Na Na tak tertahankan lagi.
“Aku datang hanya karena merasa telah kehilangan jaksa yang hebat,
sepertinya aku harus pergi”gumamnya. Yoon Sung memberi hormat kepada
Presiden lalu pergi.
Anak buah Jin Pyo menginformasikan kepada Yoon Sung bahwa saat pemilihan
Presiden, Hae Won Grop disinyalir telah menggelontorkan sejumlah dana
besar yang masuk untuk mendukung Presiden Eung Chan. Dana kampanye
gelap.
Di ruangannya, Presiden merenungi kata-kata staf Young Joo
dipersemayaman tadi. Mungkin memikirkan kata-kata yang menyebutkan City
Hunter adalah Yoon Sung.
Presiden Eung Chan melihat berkas data Yoon Sung yang kini bekerja di
Bagian Komunikasi Nasional Blue House, teringat pertama kali bertemu
dengannya. Akan kasus pembobolan alamat IP Blue House saat kasus Lee
Kyung Hwan.
“Dan ketika di perpustakaan, dia mencari album pengawal kepresidenan
tahun 1983”gumamnya merangkai satu persatu kejadian yang semakin
menguatkan dugaan Lee Yoon Sung adalah City Hunter.
Semuanya dipotong dengan kedatangan staf Young Joo, tentunya atas
undangan presiden. Staf Young Joo mulai membeberkan kasus yang berkaitan
dengan City Hunter.
“Jaksa Kim Young Joo penasaran apakah City Hunter merupakan 2 orang yang
berbeda. Lee Jin Pyo dan Lee Yoon Sung”beber staf Young Joo.
Staf Young Joo pun melanjutkan bahwa jaksa Young Joo mendedikasikan
dirinya untuk menyelidiki kasus yang berkaitan dengan misi penyapuan
bersih tahun 1983 yang melibatkan Lee Jin Pyo yang waktu itu sebagai
pengawal presiden.
“Bagaimana dengan Lee Yoon Sung?”tanya Presiden.
“Dan juga tahun 1983 orang tuanya adalah Park Mu Yeol yang juga waktu itu pengawal presiden dan ibunya adalah Lee Kyung Hee”
Mendengar nama Lee Kyung Hee disebut, Presiden terbelalak. “Park Mu Yeol dan Lee Kyung Hee?”gumamnya.
Staf Young Joo juga membeberkan bahwa Lee Yoon Sung diambil dari ibunya saat berumur satu bulan. Presiden syok bukan main.
Yoon Sung melangkah menuju ke ruangan Presiden, dan melewati begitu saja
Na Na. Kim Na Na pun berujar bahwa Presiden sepertinya mencium sesuatu
hal yang tidak beres, karena dia meminta berkas Yoon Sung secara
pribadi.
Yoon Sung tidak berkata apapun, dan melangkah pergi masuk ke ruangan presiden.
Akhirnya keduanya berhadapan lagi setelah mengetahui kenyataan
sebenarnya masing-masing. Keduanya saling menatap. Untuk mencairkan
suasana, Yoon Sung memilih membicarakan blog Presiden. Yoon Sung disuruh
melihatnya, terpampang foto Da Hye yang sungguh cantik.
“Apa kau sudah melihat konferensi pressnya?”tanya presiden yang langsung dibenarkan Yoon Sung.
“Presiden, boleh saya bertanya sesuatu? Isi dari konfrensi press tersebut apa benar?”
“Dan jika benar. Akan ada keputusan yang harus dibuat untuk mencapai
posisi ini. Untuk mengatasi semua masalah, tidak mungkin hanya
mengandalkan saya. Jadi saya berkerja hanya bertumpu pada 2 hal,
kesehatan dan pendidikan”
Dan Presiden pun berencana untuk mempertaruhakan posisinya untuk
meloloskan undang-undang mengenai privatisasi sekolah hukum di Parlemen.
“Walaupun dengan menggunakan cara yang salah?” tanya Yoon Sung. Dan Presiden terdiam tak menjawab.
Shik Joong sedang asyik melancarkan aksinya untuk menarik perhatian Eun
Ah melalui video conference. Memamerkan bahwa rumah yang kini
ditempatinya sudah atas nama dirinya. Shik Joong gelagapan saat melihat
Yoon Sung masuk dan langsung mematikan videonya. Dan memberitahukan
bahwa Kim Na Na menunggunya di ruangan Yoon Sung,
Keduanya saling berhadapan, akhirnya Na Na membuka mulut terlebih
dahulu, "Aku mendengarnya dari bibi, bahwa ayah biologismu adalah
Presiden Eung Chan". Kemarahan Na Na tidak terbendung lagi karena Jin
Pyo begitu tega menculik Yoon Sung dari ibunya, dan menyembunyikan
identitasnya.
"Lee Kyung Hwan, Seo Yong Hak, Kim Jong Shik dan Cheon Jae Man, mereka
semua orang korup! Jika tidak aku mungkin sudah memaafkan mereka"potong
Yoon Sung.
"Dan bagaimana jika Presiden berlaku korupsi? Apakah kau akan menghabisinya juga?"ujar Na Na sedih.
"Jika dia korupsi...."ucap Yoon Sung yang langsung dipotong oleh Na Na.
"Itu, apakah Lee Yoon Sung juga yang harus melakukan itu? Bukankah dia
ayahmu? Bagaimana bisa kau melakukan itu pada ayah kandungmu..."ucap Na
Na terpotong
"Jaksa Kim Young Joo juga melakukannya. Karena itu ayahnya, dia mengungkapkan semua kebenarannya"
Na Na berkata pada Yoon Sung kalau sekarang dia adalah pengawal presiden
dan dia berharap mereka akan berjumpa lagi tetapi tidak seperti ketika
dia menjadi pengawal Seo Yong Hak. Na Na pergi meninggalkan Yoon Sung
sendirian.
Yoon Sung menelpon anak buah Jin Pyo. Anak buah Jin Pyo memberi tahu
Yoon Sung bahwa anggota partai yang bernama Lee Young Tae yang berada di
bawah partai yang sama dengan Presiden tapi secara politik mereka
adalah musuh. Anak buah Jin Pyo mengatakan jika tanpa campur tangan dari
Lee Young Tae, amandemen tentang privatisasi sekolah hukum akan sangat
susah untuk lolos. Lee Yoon Sung menyimpulkan kalau presiden akan
menemui Lee Young Tae untuk meloloskan usulannya.
Presiden pergi ke suatu tempat dengan dikawal penjagaan yang ketat. Presiden bertemu dengan Kim Na Na.
"Anda sudah datang Tuan Presiden, semuanya sudah dicek dan sejauh ini belum ada keanehan yang ditemukan"lapor Na Na
"Wakil Lee Young Tae sudah datang menunggu"beritahu Na Na pada Presiden.
Presiden meminta pengawalnya untuk berada dan menunggu di luar. Kepala
Pengawal sedikit keberatan dengan permintaan presiden, tapi Presiden
meyakinkan kalau tidak akan terjadi apa-apa dan presiden hanya meminta
waktu 30 menit. Na Na yang mendengarnya merasa ada yang aneh.
Presiden berbicara pada Lee Young Tae dan meminta bantuan agar Lee Young
Tae mau meloloskan amandemen privatisasi sekolah hukum. Lee Young Tae
berkata pada presiden tentang imbalan yang didapatnya jika membantu
presiden. Presiden mengatakan akan membantu Lee Young Tae menyelesaikan
masalahnya dengan Kejaksaan.
Di luar para pengawal presiden sedang berjaga, termasuk Na Na. Ketika Na
Na sedang mengecek, Na Na melihat seorang pria berlari menaiki tangga
eskalator. Na Na segera mengejar pria tersebut. Kepala Pengawal melihat
keanehan Kim Na Na juga segera mengikuti Kim Na Na.
Di dalam Presiden sedang berbicara dengan Lee Young Tae, dan berkata
akan membantu menyelesaikan masalah Lee Young Tae terkait dengan kasus
Cheon Jae Man. Lee Young Tae mendengar itu menjadi senang dan berjanji
untuk membantu Presiden untuk meloloskan amandemennya. Yoon Sung yang
mendengar itu dari Lee Young Tae menjadi geram dan marah. Lee Young Tae
meninggalkan Presiden sendirian. Presiden menghela nafas.
Yoon Sung datang menemui presiden dari pintu penghubung.
"Mengapa kau ada di sini?"tanya Presiden
"Sepertinya kesepakatan berjalan dengan lancar. Aku tidak pernah
berfikir kalau presiden bisa melakukan itu semua"sindir Yoon Sung
"Melakukan pertukaran dengan seorang kongresman demi kesempatan belajar
ribuan mahasiswa. Aku tidak akan menyesalinya"ungkap presiden
"Bukankah sebelumnya kau mengatakan menjadi presiden adalah sebuah
pengorbanan? Sejak kapan itu semua berubah menjadi penawaran?"tanya Yoon
Sung
"Ini semua adalah politik"jawab Presiden
"Dokumen rahasia ada di tanganmu, kalau sebelumnya kau mengatakan tidak
akan menyesal dengan keputusanmu, maka aku yang akan membuat kau
menyesal dengan keputusanmu. Ini adalah balas dendamku"ujar Yoon Sung
pergi dan meninggalkan presiden sendirian.
"Presiden, anda tidak apa-apa?"tanya Kim Na Na yang masuk tiba-tiba.
"Aku baru saja akan pergi"jawab Presiden
"Pengawal Kim Na Na, ada apa?"tanya Kepala pengawal.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya khawatir karena sudah 30 menit dan presiden belum keluar juga"ucap Na Na
"Ok, kita harus kembali sekarang"ujar Presiden
Na Na melihat ruangan tersebut dan merasa aneh.
Di dalam mobil, Yoon Sung mendapatkan panggilan dari Kim Na Na, tapi dia tidak menghiraukannya.
Yoon Sung bertemu dengan seorang wartawan, Yoon Sung menanyakan tentang
dana kampanye Presiden yang digunakan oleh Presiden Eung Chan. Wartawan
tersebut berkata kalau dia tidak mengetahuinya karena presiden Eung Chan
selalu mengaturnya sendiri. Wartawan itu berkata kalau presiden Eung
Chan pasti memiliki data-datanya.
Di rumah Yoon Sung memikirkan kata-kata wartawan yang ia temui tadi. Dan
Yoon Sung yakin kalau data-data tersebut ada di kediaman resmi
presiden.
Di Blue House, Shin Eun Ah, Go Ki Joon, dan kepala bagian Yoon Sung
membicarakan tentang kematian jaksa Young Joo dan betapa kasihannya Da
Hye karena sedih mendengar kabar kematian jaksa Young Joo. Goo Ki Joon
mencoba menghibur sekaligus merayu plus mengungkapkan perasaannya pada
Shin Eun Ah. Kepala bagian Yoon Sung hanya tersenyum melihat tingkah
mereka berdua.
Presiden menelpon wartawan yang ditemui Yoon Sung. Wartawan tersebut
berkata pada Presiden kalau orang yang menemuinya mengaku sebagai
seorang reporter. Lalu presiden menanyakan pertanyaan yang ditanyakan
Yoon Sung, dan presiden memuji wartawan tersebut karena jawaban yang
diberikan wartawan tersebut pada Yoon Sung tidak terlalu buruk.
Shin Eun Ah berusaha membujuk Da Hye untuk makan. Tapi Da Hye sama sekali tidak berminat pada makanan yang dibawa Shin Eun Ah.
"Jaksa Kim Young Joo, betapa kasihannya dia."ujar Da Hye tidak
bersemangat. Tiba-tiba Da Hye memberikan sebuah bungkusan untuk Shin Eun
Ah dan menyuruh Shin Eun Ah untuk memberikannya pada Go Ki Joon. Shin
Eun Ah yang mendengar itu kaget.
Di Blue House, Yoon Sung masuk ke dalam kediaman presiden dengan alasan
menjadi tutor dari Da Hye. Ketika ada kesempatan Yoon Sung memasuki
ruangan pribadi presiden. Presiden yang kebetulan melewati tempat Yoon
Sung berada, merasa ada yang aneh (si bapak bisa ngrasain kehadiran anak
laki-lakinya..-Mia RF-). Yoon Sun berada dalam ruangan tersebut segera
mencari data-data mengenai dana kampanye yang diperoleh presiden.
Di ruangan lain presiden mengambil data-data yang dicari Yoon Sung, dan
ternyata data-data tersebut ada di dalam bantal presiden. Presiden
mengeluarkannya.
Ketika Yoon Sung sedang mencari data tersebut, presiden muncul membawa
buku yang berisikan data tersebut. Yoon Sung kaget mendengar suara
presiden.
"Apakah kau mencari ini?"tanya presiden pada Yoon Sung sambil menunjukan buku tersebut.
"Kau sungguh berani, masuk ke dalam kediaman presiden. Kelihatannya kau tidak tahu bagaimana caranya berhenti"lanjut Presiden
"Hentikan, itu tidak cocok untukku"sanggah Yoon Sung dingin
"Aku hanya ingin menanyakan satu hal? Mengapa kau melakukan ini semua?"tanya Presiden
"Untuk kebenaran, untuk warganegara yang memilih dalam pemilihan, untuk
bertindak dengan nurani yang baik, untuk melihat keluar tentara yang
bergabung untuk melindungi negaranya dan percaya pada negara yang akan
melindunginya, untuk universitas dan untuk generasi selanjutnya dan
terutama untuk mereka yang meninggal di Nampo Sea demi menyelamatkan
negaranya"ucap Yoon Sung
"Selama 20 tahun, tidak pernah aku melupakannya, aku sangat mengerti kesakitan yang Jin Pyo alami"ujar Presiden.
"Ambil ini, ini semua dari ketika aku mulai masuk ke dalam politik"ucap
Presiden sambil menyerahkan buku tersebut kepada Yoon Sung.
Yoon Sung segera mengambilnya dan meninggalkan Presiden.
"Yoon Sung-ah"panggil Presiden. Yoon Sung menghentikan langkahnya.
"Telah membuatmu seperti ini, ayah minta maaf"ucap Presiden. Yoon Sung
mendengarnya dengan air mata tertahan. Yoon Sung segera pergi.
Yoon Sung melihat buku yang diberikan presiden padanya. Kim Na Na datang dan melihat Yoon Sung sedang duduk sendirian.
Ketika Yoon Sung akan pergi dan berpapasan dengan Na Na.
"Apakah kau akan melakukannya sampai akhir?"tanya Na Na
"Selain aku, tidak akan ada yang akan melakukan semua ini"ucap Yoon Sung, lalu meninggalkan Kim Na Na.
Yoon Sung berada di tempat kerjanya mulai menyiapkan beberapa kopian
dari dokumen rahasia dan catatan dana kampanye presiden untuk
dipublikasikan. Dengan berat hati Yoon Sung tetap melakukannya.
Di dalam kongres, para dewan sedang membahas tentang amandemen
privatisasi sekolah hukum. Para anggota dewan sedang melakukan voting.
Yoon Sung mengikuti kongres tersebut melalui komputer di blue house.
Sedangkan di sisi lain, kiriman dari City Hunter sudah mulai tersebar, dan mengakibatkan keramaian.
Presiden mengamati dengan seksana perolehan hasil voting pelolosan
amandemen UU mengenai privatisasi sekolah melalui televisi. Hasilnya
menunjukkan 228 suara setuju, 41 menentang, dan 4 orang abstain, berarti
usaha presiden berhasil. Presiden bersorak senang.
Kim Na Na yang kebetulan menemani persiden tersenyum melihat reaksi presiden.
."Anda pasti sangat senang"kata Kim Na Na
"Ajudan Kim, kudengar kau juga bersusah payah membiayai studimu ya?
Kalau saja UU ini disetujui lebih awal tentu hal seperti itu tidak akan
terjadi"
Tiba-tiba staf presiden masuk melapor dengan tiba-tiba.
"Ada masalah besar Pak Presiden!"
(pastinya tentang isu yang dilempar ke media oleh Yoon Sung tentang dana ilegal dan penyuapan)
Seperti yang bisa ditebak, isu ini ditebar di media massa.
Kasus ini memberatkan Presiden, anggota dewan/kongres terutama lawan
politiknya mengajukan impeachment dan minta Prsiden Choi Eung Chan
dicopot dari jabatannya.
Staf presiden melaporkan bahwa dewan telah mengusulkan impeachment kepada presiden
"Maaf saya tidak bisa melindungi Anda"
"Tidak apa-apa tapi di lain pihak saya lebih tenang, harusnya ini belangsung sejak dulu"
Kantor kejaksaan kembali menerima pesan dari city hunter. Kali ini
mengenai kasus penyuapan untuk pelolosan UU amandemen sekolah swasta.
City hunter rupanya telah menangkap para tersangka penyuapan itu ,
termasuk banyaknya suap dan foto mereka saat menerima yang suap
Kasus uang melanda presiden dan usulan impeachment terhadap presiden ramai dibicarakan di media massa termasuk televisi.
Di rumah Yoon Sung dan Shik Joong pun menyaksikan berita itu di TV.
"Wah presiden pasti diturunkan"kometnar Shik Joong polos dan negeri ini pasti merasa dikhianati"
Yoon Sung tampak sangat sedih mendengarnya namun berusaha menekan
perasaannya. Walau dia pasti telah menyadari konsekuensi itu bakal
terjadi pada ayah kandungnya, namun dia saat itu tidak punya pilihan
lain untuk tetap konsisten terhadap apa yang telah dijalankan dan
dipercayainya (paling ga dia berusaha meneruskan pekerjaan Kim Young
Jou..hiks ingat jaksa mati mengenaskan jadi sedih)
Yoon Sung lalu pergi dengan lunglai.
"Kau akan ke mana Yoon Sung"kata Shik Joong (ini si paman ga tau apa Yoon Sung terbebani karena presiden itu ayah kandungnya!)
"Ayah akan segera bergerak"kata Yoon Sung lirih.
Yoon Sung tahu ayah angkatnya Jin Pyo tidak akan puas hanya melihat Cha Eung Chan susah sampai di situ saja.
Dan benar saja di tempat terpisah Jin Pyo sedang menyiapkan peluru dan pistolnya.
Di kantor pengawal presiden, bos Kim Na Na memberitahukan bahwa besok adalah jatah libur bagi Kim Na Na.
"Bersiap-siap saja untuk ditempatkan kembali dan standby karena ada kemungkinan akan dipanggil ke villa"kata bos Kim Na Na
Na Na tak menyadari hal itu karena dia juga punya catatannya, tapi data itu rupanya sudah ada di kalender blue house.
Di lain pihak, Yoon Sung rupanya mengetahui hal itu (atau mungkin Yoon
Sung yang mengubah jadwalnya karena dia ga mau berhadapan langsung di
lapangan dengan Na Na?) Saat itu Yoon Sung yang tahu jalan pikiran ayah
angkatnya pun menyiapkan diri untuk menghadangnya. Dia mulai memasukkan
peluru satu per satu ke dalam selongsong pistolnya.
Kim Na Na menyadari akan terjadi hal-hal yang tidak beres, dia pun diam-diam menyiapkan pistolnya.
Jin Pyo menelepon presiden Choi Eung Chan secara langsung
"Sebelum Anda menerima pengadilan dari negara lebih baik Anda menerima
pengadilan dariku dulu. Jika Anda tidak ingin jatuh korban bagi orang
tak bersalah lebih baik Anda tak menghentikanku!"
Di conference room, Presiden bersiap-siap untuk meeting. Namun presiden memberikan pesan pada Chief Park.
"Sebelum meeting ada orang yang penting bertemu denganku,tolong biarkan
dia masuk dan jangan lakukan body chek padanya langsung biarkan saja dia
masuk dan tolong biarkan aku sebentar"
"Tapi presiden , saya tidak bisa melakukan itu"
"Tolong lakukan saja, aku ingin menyendiri dan berpikir beberapa saat"
Chief Park tidak punya pilihan kecuali mengikuti kemauan presiden dan
keluar. Sebaliknya Na Na secara diam-diam sudah berada blue house
mengamati presiden.
Jin Pyo pun tak lama kemudian datang seorang diri. Dia sempat di tahan
pengawal di depan pintu, namun chief Park membiarkan langsung masuk.
"Presiden menunggu Anda di dalam"kata chief Park
Jin Pyo memasuki ruangan mencari Choi Eung Chan, namun tak disangka yang
ditemuinya di sana adalah Yoon Sung yang berupaya menghadangnya.
"Kau sudah tidak ada urusan lagi di sini"kata Jin Pyo
"Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku akan menghentikan Anda dengan tanganku sendiri", ata Yoon Sung mantap.
"Dendam yang tersimpan selama 28 tahun ini, kamu tidak akan bisa menghentikannya!".
Jin Pyo mulai bergerak mengambil pistolnya, dan pada saat yang sama Yoon
Sung pun reflek menarik pistolnya dengan cepat dan akhirya kedua anak
dan ayah (angkat) itu saling menodongkan senjatanya satu sama lain.
"Balas dendam yang kejam dengan membunuh ayah kandungku sendiri?? Anda
pikir aku bisa bahagia dengan balas dendam ini?"kata Yoon Sung, mereka
tetap menodongkan senjata satu sama lain.
Yoon Sung lalu melanjutkan, "Pernah aku tak punya pilihan dan
mengacungkan pistol di depan wanita yang aku cintai. Lalu Kau pikir aku
sekarang bisa duduk diam saja?".
"Aku setia pada ayah yang kehilangan sebelah kakinya karena aku. Tapi
Anda malah pernah mengacungkan pisau (pedang di tongkatnya klo ga salah)
padaku. Menurutmu bagaimana (hancurnya) perasaanku waktu itu?"kataYoon
Sung sedih (poor Yoon Sung).
"Ku harap Anda mau berpikir bagaimana rasanya menjadi diriku. Tolong
hentikan semua ini". “Aku.....hanya ingin hidupku seperti orang normal
kembali, dengan ayah hidup bahagia bersama", Yoon Sung mulai
berkaca-kaca ( hiks...).
"Tapi rasanya itu semua hanya mimpi", Yoon Sung yang tak tahu lagi harus
berbuat apa tiba-tiba nekad mengacungkan pistol ke kepalanya sendiri.
Jin Pyo kaget.
"Jika ini memang sudah takdirku, biarlah aku yang mengakhiri semuanya"lanjut Yoon Sung.
Yoon Sung bersiap-siap menekan pelatuknya sambil memejamkan matanya
(mungkin juga ngancam, mungkin juga putus asa, dia ga bisa nembak
ayahnya angkatnya juga ga bisa membiarkan ayahnya nembak ayah
kandungnya).
Tiba-tiba, "Jangan! hentikan!"
Kim Na Na dan presiden datang.
Kim Na Na mengancungkan pistolnya pada Jin Pyo
"Youn Sung sudah hentikan cukup, tolong kamu turunkan pistolmu ..", Kim Na Na yang prihatin dengan hati-hati membujuk Yoon Sung.
Yoon Sung terharu mendengar suara Na Na...
"Aku sudah berjanji untuk menebus nyawa-nyawa yang pernah kau
ambil",kata Jin Pyo pada Choi Eung Chan. Choi Eung Chan tak punya
pilihan lain kecuali pasrah karena kesalahan yang dulu dia perbuat.
"Ajudan Kim, maafkan aku"kata Eung Chan lalu mendorong jauh Kim Na Na yang melindunginya hingga tersungkur.
Jin Pyo tak ragu mengambil kesempatan itu untuk menembak Choi Eung Chan.
Yoon Sung dalam hitungan 1 detik mengetahui ayah kandungya dalam bahaya,
dia langsung lari melompat menghadang peluru dengan badannya. Akhirnya
Yoon Sunglah yang tertembak. Dada kirinya tembus sebuah timah panas
(ah...).
Presiden dan Na Na kaget.Na Na kontan langsung menembak dada Jin Pyo.
Yoon Sung ambruk ke lantai, Na Na langsung menghampiri Yoon Sung dan
tersungkur lemas melihat kondisinya
Para pengawal presiden memasuki ruangan mendengar suara tembakan. Mereka
mengamankan presiden dan mengacungkan senjata pada Jin Pyo. Jin Pyo
rupanya masih kuat bertahan.
Namun Jin Pyo juga rupanya syok, tak menyangka Yoon Sung yang
dibesarkannya sampai nekad ingin bunuh diri dan kali ini rela menjadi
tameng untuk pelurunya, dan kini terbaring tak berdaya.
Para pengawal mengancam Jin Pyo untuk tidak melawan. Jin Pyo berbalik
mengalihkan senjatanya pada Yoon sung sebagai sandera. Na Na hanya
terdiam menangis melihat Yoon Sung. Jin Pyo tak punya pilihan lain
baginya balas dendam atau mati kayaknya. Namun di akhir hidupnya karena
Yoon Sung dia sedikit berpikir lain.
Jin Pyo mengaku pada semua orang di sana bahwa dia adalah satu-satunya
orang yang selamat dari operasi penyerbuan (dan penghabisan) tahun
83."Aku adalah Lee Jin Pyo bermaksud membalas dendam untuk atasan dan
rekan-rekanku .Demi itu aku sendiri membunuh Lee Kyung Wan dan Cheon Jae
Man, juga menculik Kim Jong Sik (ayah Kim Young Joo) dan membuatnya
terjatuh, dan aku juga yang mengirim Seo Yong Hak ke kantor
pengacara.... Dan akhirnya aku juga harus membunuh Choi Eung Chan.
Akulah...City Hunter.!"
Yoon Sung kaget...ayahnya berbohong untuknya, tapi Yoon Sung tidak bisa
berkata-kata apa-apa lagi. Na Na juga hanya bisa menangis.
Jin Pyo lalu mengarahkan pistolnya ke arah pengawal presiden dengan
sebelumnya sekilat mengosongkan pistolnya. Dan tak ragu lagi para
pengawal spontan memberondong Jin Pyo dengan tembakan, Jin Pyo pun roboh
dengan banyak luka tembakan di dadanya.
Yoon Sung syok melihat kondisi ayah angkatnya yang roboh bersimbah
darah, yang akhirnya memilih mati dan telah berbohong untuknya (Yoon
Sung tentunya tidak akan dituduh lagi sebagai city hunter). Kim Na Na
yang juga tahu segala tak tega melihat semuanya dan terus menangis.
Lalu Yoon Sung dengan sisa tenaganya berusaha menggapai-gapai tangan
ayahnya dengan sedih...Dua orang ayah dan anak (angkat) akhirnya
berpegangan tangan bersimbah darah. Tragiss.....kasihan
(Walau tragis mungkin masih lebih beruntung karena tadinya di mimpi Yoon
Sung, Yoon Sung dan Kim Na Na yang terbaring bersimbah darah)
Waktu pun telah berlalu...dan aku percaya Yoon Sung dengan hanya satu tembakan di dada kiri akan bisa sembuh.
Da Hye kini terlihat sudah membuka cafe (kedai kopi) sendiri, dia
melayani Kim Na Na yang datang ke tempatnya. Na Na tampak masih berduka
dia mengenakan pakaian hitam.
"Choi Da Hye brand coffee latte"kata Da Hye menyuguhkan kopi buatannya untuk Na Na dengan busa berbentuk daun yang indah.
"Indah sekali"kata Na Na kagum. "Kau sekarang sudah tampak seperti
barista ya" (barista itu semacam bartender tapi untuk kopi, profesi yang
dicita-citakan Da Hye).
Rupanya Kim Na Na berduka karena ayahnya yang selama ini terbaring koma
di rumah sakit akhirnya meninggal dunia. Da Hye melihat Kim Na Na begitu
kecapaian sampai lingkar matanya menghitam. Namun Na Na sendiri
tampaknya sudah cukup tabah dan sudah bisa tersenyum lagi.
Tak lama kemudian datanglah pasangan Ki Joon (uri kwang soo...) dan Shin
Eun Ah datang berkunjung ke kedai kopi. Mereka berdua punya kabar
gembira.
"Kami akan segera menikah", mereka memperlihat undangannya pada Na Na dan Da Hye.
Go Ki Joon tampak begitu senang (duh akhirnya uri Kwang Soo bahagia....)
"Kubilang juga kalian berdua emang cocokkan"kata Da Hye.
Na Na rupanya telah menyatakan keluar dan Blue House dan Yoon Sung
setelah kejadian itu nampaknya tak pernah bekerja lagi di Blue House. Ga
jelas nih Yoon Sung sebenernya berobat di mana apa mungkin di US?
Shin Eun Ah terlihat sedih dan berkata di Blue House akan bertambah sepi lagi tanpa Na Na.
"Katamu aku cukup berbahagia denganku"potong Go Ki Joon.
Go Ki Joon lalu berkata bila mereka sibuk tak bisa hadir dia akan meng
sms-kan no rekeningnya saja (ga mau rugi ga dapet angpau hehe).
Undangan pernikahan Ki Joon dan Eun Ah rupanya sampai juga ke tangan
paman Shik Joong. Shik Joong sebenarnya mencintai Eun Ah tampak sedih
walau tetap berharap Shin Eun Ah bahagia.
Di rumah Yoon Sung, Lee Kyung Hee dan paman Shik Jong rupanya sudah
berkemas untuk bersiap-siap pindah dan menyusul ke US (Yoon Sung sudah
terlihat ga ada di sana).
Kyong Hee menerima kiriman bunga dari Choi Eung Chan
Shik Joong bertanya apa isi ucapannya.
"Dia meminta maaf, juga berterimakasih dan berharap aku hidup bahagia"
Shik Joong malah sudah berniat akan membuka lagi kedai ddubboki mama Yoon Sung di US.
"Dan biar makanan korea akan terkenal di Amerika!"tekad Shik Joong.
Para korban operasi penyerbuan tahun 1983 namanya telah dipulihkan dan
dimakam mereka berdiri prasasti untuk mengenang kepahlawanan dan
pengorbanan mereka demi negara, di sana tercantum nama Lee Jin pyo dan
Park Moo Yeul (rupanya Jin Pyo namanya dipulihkan juga).
Na Na juga telah mengemasi barang-barangnya dan siap pergi (ke mana ya
atau ke luar kota aja? atau ke US?). Dia berada di bandara (sepertinya).
Dia lalu sekilas seperti melihat sosok Yoon Sung. Na Na langsung
berlari mencari Yoon Sung tapi tidak ditemukannya.
Ternyata Yoon Sung sudah berada di belakangnya, memakai kemeja hitam
yang terlihat pas dan cocok di tubuhnya. Na Na tersenyum senang. Yoon
Sung pun tesenyum pada Na Na.Na Na pun tersenyum bahagia bertemu Yoon
Sung kembali. Yoon Sung tampak sehat wal afiat dan tetep cakep dan gagah
kayak dulu, perfect namja.
Kebahagiaan terpancar dari senyuman dan wajah mereka, yang sulit
diuraikan dengan kata-kata (hoho). Kita hanya ikut senang karena Yoon
Sung dan Na Na akhirnya bersatu kembali.
Yoon Sung pun berkat Jin pyo bisa lolos dari tuduhan tentang city hunter
dan dia bisa menikmati hidup normal dengan bebas. City Hunter kita pun
bisa melajukan kendaraan mewahnya dengan tenang di tengah kota di malam
hari...
=The End=
=Aida Rf=
Akhirnya CH kelar juga, makasi buat author utama yang sudah mengijinkan
ikutan nulis . .mpok acie, mpok mia, para sesepuh PD . .dan terutama
buat para readers setia PELANGI DRAMA. . .kamsahamnida. ^^
=Asri Rf=
Finally, selesai juga sinopsis City Hunter, diawali dengan adegan yang
mengesankan dari sosok Lee Min Ho, dan ending yang tidak terlalu
mengecewakan, walau masih terbesit beberapa pertanyaan dari beberapa
adegan di City Hunter. Yang paling mengganggu ya siapa yang melepaskan
Cheon Jae Man saat di tahan di kejaksaan?? hemm, sampai akhir tidak
terjawabkan. Secara keseluruhan bagus namun aku bilang drama City Hunter
drama action yang tidak terlalu action, ok sejauh ini tidak menganggu
saat saya menonton drama ini. Sempat dipertengahan jalan, merasakan
ke-boring-an akan drama ini, cukup beruntung 'diselamatkan' dengan
episode-episode terakhir yang cukup mengesankan. Kembali lagi ke selera
asal para penonton, jika pecinta Lee Min Ho, maka tidak akan begitu
dikecewakan, namun sebagai pembaca setia komik City Hunter yang asli,
jangan coba-coba untuk membandingkan keduanya. Yeah, happy reading and
happy fasting guys..Mohon Maaf Lahir Batin jika banyak yang dibuat bete
abis dengan molornya postingan sinopsis City Hunter..Hahah..
nb : Untuk sementara saya pribadi akan memilih jalan hiatus dari jagat
persinopsisan, tapi jangan khawatir masih banyak Author lain yang masih
bisa dikejar-kejar request sinopsis lain. Hahah, *plakkk..kagak ada yang
nyari elu cie. :p
=Mia Rf=
Alhamdulliah, selesai juga Ch-nya. Walaupun menurutku akhir kisahnya
terlalu dipaksakan. Karena sampai saat ini kita gak tahu bagaimana nasib
para anak buah (Anak buah Jin Pyo + anak buah Cheon Jae Man.). Sedikit
kecewa sih ama ending kisah cintanya Na Na sama Yoon Sung yang aku harap
bisa lebih dari itu. Tapi ada kepuasan tersendiri karena bisa
benar-benar nyelesain CH sampai benar-benar tuntas. Legaa rasanya..
Terima kasih untuk para pembaca setia City Hunter dan author-author yang
selama ini kasih semangat untuk kita, bisa menyelesaikan sinop CH ini..
Satu lagi, buat sinop CH bikin ngiler lihat gadgetnya yang Yoon Sung...hehe :)
=Nana Rf=
Wuah akhirnya selesai juga drama petualangan city hunter kita...dari
awal pengejaran Seo Yong Hak melihat aksinya yang mengesankan...(awal
teteh mulai suka sama City Hunter hehe) dan setelah itu selalu ga sabar
melihat aksi city hunter berikutnya dan juga kisah cinta dengan Kim Na
Na. Cukup bersyukur dengan endingnya di balik ada juga kejadian
mengenaskan. Jadi jangan berharap ending terlalu berbunga-bunga antara
Kim Na Na dan Yoon Sung karena kita masih berduka dengan kematian Kim
Young Joo juga hiks.
Pesan dari drama city hunter yang perlu kita ingat bersama bahwa drama
ini banyak mengetengahkan tentang keadilan dan hukum. Bagaimana pun
hukum tetap harus ditegakkan City hunter dengan caranya sendiri pun
berusaha menegakkan keadilan lalu berusaha menyerahkan semuanya untuk
diproses secara hukum.
Penegakan hukum tidak boleh kalah sama KKN, sehingga tidak perlu sampai
terjadi main hakim sendiri seperti Jin Pyo atau orang yang berani
membunuh penegak hukum seperti Jae Man. Pengacara kesayangan kita Kim
Young Joo walau sebagai manusia pernah salah karena diam saja akan kasus
ayahnya, telah menjadi contoh pahlawan penegak hukum. Membahayakan
nyawanya sendiri untuk berupaya melawan kejahatan sesuai hukum yang
berlaku. Ayo di Indonesia ada yang seperti Young Joo ga??..wuah di sini
kejahatan dan KKN sudah segitu mengguritanya sepertinya kita butuh
ribuan orang kayak Yoon Sung dan Young Joo kali di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar